Jumat, 06 Juli 2012

pengumpulan quran


BAB I
PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG
          salah satu yang dibanggakan umat Islam dari dahulu  hingga saat ini adalah keotentikan Al-Qur’a>n yang merupakan warisan Islam terpenting dan paling berharga.  Meskipun mushaf  yang kita kenal saat ini berdasarkan atas rasm Usman bin Affan, akan tetapi sebenarnya ia tidak begitu saja muncul sebagai buah karya besar yang hampa dari proses panjang yang dilalui pada massa-masa sebelumnya.
            Proses itu di mulai pada Rasulullah Saw. Setiap kali  menerima wahyu Al-Qur’a>n  Rasulullah Saw langsung mengingat, menghafalnya dan memberitahukan serta membacakannya pada para sahabat, agar mereka mengingat dan menghafalnya pula.[1]
Seiring perjalanan waktu dalam sejarah, mulai diturunkannya Al-Qur’a>n hingga wafatnya Rasulullah saw sampai kepada periode Khulafa al-Rasyidi>n, masing-masing periode memiliki cara dan metode dalam memelihara dan mengumpulkan Al-Qur’a>n.
Dari hal tersebut di atas, maka menarik untuk dikaji, khususnya aspek sejarah dari proses pengumpulan Al-Qur’a>n pada masa Rasulullah saw sampai pada masa sahabat.
           
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan di atas, penulis mencoba  mengemukakan beberapa permasalahan pokok berkaitan dengan  materi makalah ini, yaitu;
1.        Apa pengertian Jam’u Al-Qur’a>n ?
2.        Bagaimana pengumpulan Al-Qur’a<n pada masa Nabi Muhammad saw, Abu Bakar dan Usman bin Affan?


PEMBAHASAN


A.pengertian Jamul Al-Qur’a>n.
           
            Dalam sebangian literatur yang membahas tentang ilmu-ilmu Al-Qur’a<n istilah yang dipakai untuk menunjukkan arti penulisan, pembukuan atau kodifikasi  Al-Qur’a>n adalah  jam’ul  Qur’a>n,[2] جمع القران  artinya  pengumpulan Al-Qur’a>n.  Sementara  hanya  sebangian  kecil  yang memakai istilah kita>bat  Al-Qura>n  كتا بةالقراان  artinya  penulisa  Al-Qur’a>n  serta  tadwi>n     Al-Qur’a>n تدوين القران  artinya  pembukuan  Al-Qur’a>n.[3]
            Yang dimaksud dengan pengumpulan Al-Qur’a>n  oleh para ulama adalah salah satu dari dua pengertian berikut:
            Pertama:  pengumpulan  dalam  arti الجمع في الصدور  (penghafalannya dalam hati)  inilah  makna  yang  dimaksudkan  dalam firman Allah dalam surat al-Qiyamah [75]: 16-19.
Ÿw õ8ÌhptéB ¾ÏmÎ/ y7tR$|¡Ï9 Ÿ@yf÷ètGÏ9 ÿ¾ÏmÎ/ ÇÊÏÈ   ¨bÎ) $uZøŠn=tã ¼çmyè÷Hsd ¼çmtR#uäöè%ur ÇÊÐÈ   #sŒÎ*sù çm»tRù&ts% ôìÎ7¨?$$sù ¼çmtR#uäöè% ÇÊÑÈ   §NèO ¨bÎ) $uZøŠn=tã ¼çmtR$uŠt/ ÇÊÒÈ  

Terjemahannya:
janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.. apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.

            Kedua: pengumpulan dalam arti kita> kullihi (Penulisan Al-Qur’a>n semuanya) baik dengan memisahkan ayat-ayat dan surah-surahnya atau menertikan ayat-ayatnya semata dan setiap surah ditulis dalam sutu lembaran secarah terpisah, ataupun menertibkan ayat-ayat dan surah-surahnya dalam lembaran-lembaran yang terkumpul yang menghimpung semua surah.[4]

B.Pengumpulan Al-Qur’a>n
            Adapun pengumpulan Al-Qur’a>n melalui tiga fase yaitu:
1.       Pengumpulan Al-Qur’a<n pada masa Nabi Muhammad saw,
2.       Pengumpulan Al-Qur’a>n pada masa Abu Bakar,
3.       Pengumpulan Al-Qur’a>n pada masa Usman bin Affan.

A.Pengumpulan al-Qur’a>n  pada Masa Nabi

Kodifikasi atau pengumpulan Al-Qur’a>n telah dimulai sejak zaman Rasulullah saw, bahkan telah dimulai sejak masa-masa awal turunnya Al-Qur’a>n. Sebagaimana diketahui, Al-Qur’a>n diturunkan secara berangsur-angsur, hal ini disesuaikan dengan keadaan Rasulullah dan agar lebih mudah untuk menghafalnya baik oleh Nabi maupun para sahabat.
Pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’a>n di masa Nabi saw. terbagi atas dua kategori:
1.             Pengumpulan Al-Qur’a>n dalam dada.
                   Al-Qur’a>n diturunkan kepada Rasulullah saw, di mana beliau dikenal seorang ummi (tidak dapat membaca dan menulis). Oleh karenanya setiap ayat Al-Qur’a>n diturunkan, beliau hanya menghafal dan menghayatinya agar penguasaannya terhadap Al-Qur’a>n persis sebagaimana aslinya. Dan setelah itu, beliau membacakannya kepada sahabat dan ummatnya sejelas mungkin dan memerintahkan kepada mereka untuk dapat menghafal dan memantapkannya[5]. Hal ini persis dengan janji Allah dalam QS. Al-Qiya>mah (75): 16-19 yang artinya:
Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’a>n) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya kami yang akan menjelaskannya.[6]

Para sahabat langsung menghafal Al-Qur’a>n tersebut di luar kepala setiap kali Rasulullah saw menyampaikan wahyu kepada mereka. Hal ini bisa mereka lakukan  dengan mudah terkait dengan kultur ( budaya) orang Arab  yang menjaga peninggalan nenek moyang mereka dengan cara hafalan.
Manna> al-Qatta>n mengutip hadis dari kitab Shahi>h  Bukhari tentang tujuh hafidz, melalui tiga riwayat. Mereka adalah Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qal, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Ts>abit, Abu Zaid bin Sakan dan Abu Darda’.[7]
2.       Pemeliharaan  Al- Qur’a>n  dengan  tulisan
Walaupun Nabi Muhammad saw dan  para sahabat  menghafal ayat-ayat Al-Qur’a>n secara keseluruhan,  namun guna  menjamin terpeliharanya wahyu Ilahi beliau tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga tulisan.
Sejarah menginformasikan bahwa setiap ayat yang turun Rasulullah memanggil sahabat-sahabat yang dikenal pandai menulis.  Rasulullah mengangkat  beberapa penulis wahyu seperti Ali, Muawiyah, Ubay bin Ka’ab dan Zaid binTs>abit.  Bila  ayat  turun,  ia  memerintahkan  mereka menuliskannya dan  menunjukkan di mana tempat  ayat  tersebut  dalam  surat.   Ayat- ayat  Al-Qur’a>n mereka tulis  pada pelepah kurma, lempengan batu, kulit dan tulang binatang[8].
Tulisan-tulisan Al-Qur’a>n pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf. Biasanya yang ada di tangan seorang sahabat misalnya belum tentu dimiliki oleh yang lainnya. Menurut para ulama, di antara sahabat yang menghafal  seluruh isi Al-Qur’a>n ketika  Rasulullah  masih  hidup  adalah  Ali  bin Abi Tha>lib, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Ts>abit dan Abdullah bin Mas’ud.[9]
Al–Zarqa>ni menyebutkan dalam kitabnya Mana>hil al-Irfa>n  bahwasanya faktor-faktor  yang mempengaruhi sehingga Al-Qur’a>n tidak dibukukan pada masa Nabi adalah sebagai berikut:
a.       Sarana tulis menulis pada waktu itu sangat minim dan sangat susah mendapatkannya.
b.      Nabi senantiasa menunggu kelanjutan wahyu karena adanya ayat-ayat yang di na>sakh  setelah diturunkannya.
c.       Ayat-ayat tidak diturunkan sekaligus.
d.      Ayat-ayat Al-Qur’a>n turun pada umumnya sebagai jawaban dari suatu pertanyaan atau kondisi masyarakat sehingga tidak turun dalam keadaan tersusun ayatnya.[10]
Dengan melihat penjelasan tersebut di atas, maka jelaslah bahwa sejak zaman Rasulullah telah terjadi pengumpulan Al-Qur’a>n walaupun tulisan tersebut belum dalam bentuk mushaf  seperti sekarang, tetapi ini cukup menjadi bukti.
B Pengumpulan Al-Qur’a>n pada masa Abu Bakar.
               Kaum muslimin melakukan konsensus untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah sepeninggal Nabi Saw. Pada awal masa pemerintahan Abu Bakar, terjadi kekacauan akibat ulah Musaila>mah al-Kazza>b beserta pengikut-pengikutnya. Mereka menolak membayar zakat dan murtad dari Islam. Pasukan Islam yang dipimpin Kha>lid bin Wa>lid segera menumpas gerakan itu. Peristiwa itu  terjadi  di Yama>mah tahun 12 H. Akibat banyak sahabat yang gugur termasuk 70 orang yang diyakini menghafal Al-Qur’a>n.[11]
                   Dari rekaman sejarah diatas, di ketahui bahwa Abu Bakar adalah orang pertama yang memerintahkan penghimpun Al-qur’a>n. umar bin Khattab adalah plopor idenya dan Zaid bin Sts>abit adalah pelaksana pertama yang melakukan kerja keras penulisan Al-Qur’a>n secarah utuh dan sekaligus menghimpungnya dalam satu mushaf.
                   Karena khawatir kelestarian Al-Quran hilang, Zaid bin Ts>abit salah seorang  sekretaris Nabi yang muda dan pintar ditugaskan untuk melacak kembali Al-Qur’a>n. Dalam melaksanakan tugasnya Zaid menetapkan kriteria yang ketat untuk setiap ayat yang dikumpulkannya. Ia  tidak  menerima ayat yang hanya berdasarkan hafalan saja, tanpa didukung tulisan.         
           
Sikap kehati-hatian Zaid dalam mengumpulkan Al-Qura>n atas dasar pesan Abu Bakar:
 أقعدا على باب المسجد، فمن جاء كما بشاهدين على شيء من كتاب الله فاكتباه.
“Dudulah kalian di pintu masjid. Siapa yang datang kepada kalian membawa catatan al-Qur’an degnan dua saksi, maka catatlah”[12].
                   Riwayat yang berkaitan juga dikeluarkan Ibn Abi Dawud melalui jalan Yahya bin Abdirrahman bin Hatib yang menceritakan bahwa Umar berkata:
من كان تلقى من رسول الله صلى الله عليه وسلم شيئا من القرآن فليأت به. وكانوا يكتبون ذلك فى الصحف والألواح والعسب. وكان لا يقبل من أحد شيئا حتى يشهد شهيدان.
Artinya:
“siapa saja pernah mendenganr beberapa saja ayat AL-Qur’a>n dari Rasulullah, sampaikalah  (kepada zaid).  
Dan  (pada waktu itu) para sahabat telah menulisnya pada subut, papan, dan pelepah kurma. Zaid tidak menerima laporan ayat dari siapa pun sebelum diperkuat dua saksi.[13]
                  

                   Adapun karesteristik penulisan Al-Qur’a>n pada masa Abu Bakar adalah:
1.      Seluruh ayat Al-Qur’a>n di kumpulkan dan ditulis dalam satu mushaf berdasarkan penelitian yang cermat dan seksama.
2.      Seluruh ayat yang ada di akui kemutawatirannya.
3.      Dialek Arab yang dipakai dalam pembukuan ini berjumlah 7 (qiraat) sebagaimana yang ditulis pada kulit unta pada masa Rasulullah.[14]
C.Pengumpulan Al-Qur’a>n pada masa Usman bin Affan

            Pada masa pemerintahan Usman, wilayah negara Islam telah meluas sampai ke Tripoli Barat, Armenia dan Azarbaijan. Pada waktu itu, Islam sudah tersebar  kebeberapa  wilayahh  di  Afrika, Syiria  dan  Persia.  Para  penghafal Al-Qur’a>n pun akhirnya menjadi tersebar , sehingga menimbulkan persoalan baru, yaitu  saling pendapat di kalangan kaum muslimin mengenai bacaan (qira>at)  Al-Qur’a>n.[15]
            Utsman segera mengungdang para sahabat dari Anshor dan Muhajirin bermusyswarah mencari jalan keluar dari masalah serius tersebut. Akhirnya dicapai sebuah kesepakatan agar mushaf Abu Bakar di saling kembali menjadi beberapa mushaf. Mushaf-mushaf  itu nantinya dikirim ke berbagai kota atau daerah untuk dijadikan rujukan bagi kaum muslimin terutama manakalah terjadi perselisihan tentang qira>at Al-Qur’a>n antar mereka.
            Untuk terlaksana tugas tersebut, khalifah Utsman menunjuk satu team yang terdiri dari empat orang sahabat, yaitu; zaid bin Ts>abit, Abdullah ibn Zubair, Sa>id ibn al-As dan Abd al-Rahma>n ibn al-haris ibn Hisya>m.[16] Keempat orang ini adalah para penulis wahyu. Tim ini bertugas menulis mushaf Al-Qur’a>n yang tersimpan di  rumah  Hafsah, karena dipandang sebagai mushaf  standar.
            Tentang jumlah mushaf   yang ditulis, berapapun jumlahnya tidak menjadi persoalan. Yang pasti, upaya tersebut telah berhasil melahirkan mushaf yang baku sebagai rujukan bagi kaum muslimin dan menghilankan perselisihan serta perpecahan di antara mereka. Beberapa karesteristik mushaf  yang ditulis pada masa  Utsman ibnu Affan antara lain:
1.      Ayat-ayat Al-Qur’a>n yang ditulis seluruhnya berdasarkan riwayat yang mutawa>tir.
2.      Tidak memuat ayat-ayat yang mansu>kh.
3.      Surat-surat  maupun  ayat-ayat  telah  disusun  dengan  tertib  sebagai  Al-Qur’a>n yang kita kenal sekarang.
4.      Tidak memuat sesuatu yang tidak tergolong Al-Qur’a>n seperti yang ditulis sahabat Nabi dalam masing-masing mushafnya, sebagai penjelasan atau keterangan terhadap makna ayat-ayat tertentu.[17]
5.      Dialek yang dipakai dalam mushaf  ini hanya dialek  Quraisy saja, dengan alasan Al- Qur’a>n diturunkan dengan bahasa Arab  Quraisy sekalipun pada mulanya diizinkan membacanya dengan menggunakan dialek lain.

Mushaf yang disusun pada masa khalifah Usman bin Affan ini lebih lengkap jika dibandingkan dengan  mushaf   pada  masa  khalifah  Abu  Bakar. Al-Zarqa>ni menjelaskan bahwa mushaf  Usma>ni telah dilengkapi penulisannya selain tertib urutan ayat, juga sudah ada urutan-urutan surah.[18]
Al-Zarkasyi menjelaskan hasil kerja tersebut berwujud empat mushaf al-Qur’a>n. Tiga diantaranya di kirim ke Syam, Kufah dan Basrah dan satu mushaf ditinggalkan di Madinah untuk pegangan khalifah yang kemudian di kenal dengan Mushaf al-Imam. Agar persoalan silang pendapat mengenai bacaan dapat diselesaikan dengan tuntas, maka Usman memerintahkan semua mushaf yang berbeda dengan hasil kerja panitia yang empat itu dibakar.[19]
Dengan usahanya itu, Usman telah berhasil menghindarkan timbulnya fitnah dengan mengikis sumber perselisihan serta menjaga Al-Qur’a>n dari perubahan dan penyimpangan sepanjang zaman.
Perbedaan penulisan Al-Qura>n pada masa Abu Bakar dan pada masa Usman dapat dilihat dari bagan berikut ini:

Pada masa abu bakar:

1. Motivasi     penulisannya   adalah  khawatir  sirnanya  Al-Qur’a>n  dengan  syahidnya  beberapa  Al-Qur’a>n pada Perang Yamamah.
2. 
Abu  Bakar  melakukannya  dengan  mengumpulkan  tulisan- tulisan Al-Qura>n yang terpencar- pencar pada pelepah kurma, tulang, dan sebagainya.

Pada masa umar bin khattab:

1. Motivasi
 penulisannya  karena terjadinya   banyak perselisihan di dalam cara membaca Al-Qura>n (qira’at).
2. Utsman melakukannya dengan enyederhanakan tulisan mushaf pada satu huruf dan tujuh huruf yang dengannya Al- Qur
a>n turun
PENUTUP
Berdasarkan pemaparan diatas, penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Jam’u Al-Qur’a>n adalah  proses penyampaian, pencatatan, pengumpulan catatan dan kodifikasi hingga menjadi mushaf  Al-Qur’a>n.
2.      Bahwa pengumpulan Al-Qur’a>n terjadi pada tiga masa, dimana masing-masing dilatar belakangi oleh peristiwa yang berbeda yaitu:
a.       Latar belakang pengumpulan Al-Qur’a>n dimasa Rasulullah saw adalah untuk menjaga kesempurnaan Al-Qur’a>n selama proses diturunkannya.
b.       Di masa kekhalifahan Abu Bakar dilatar belakangi oleh peristiwa perang Yama>mah dimana para sahabat huffa>dz banyak yang syahid dalam peperangan tersebut.
c.        Dan terakhir pada masa kekhalifan Utsman, pada masa ini terjadi perselisihan terhadap perbedaan bacaan di kalangan umat yang berujung pada saling menyalahkan bahkan muncul pertikaian. Olehnya itu Utsman kemudian berinisiatif untuk mengumpulkan Al-Qur’a>n menjadi satu mushaf  yang menjadi pegangan bersama oleh semua umat Islam pada masa itu.
                                         



DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama, al-Qur’a>n dan Terjemahannya, Jakarta: PT.Bum Restu,1977

Husni Agil Said , Al-Qur’a>n Membangun Tradisi kesalehan Hakiki, Cet. I Jakarta: Ciputat Press, Januari 2002

Mihsan, Muhammad Salim, Tari>kh al-Qur’an, Iskandariah: Muassasah al-Syabab al-Ja>miah, t,th.

Shihab, Quraish, etal., Sejarah dan Ulumul Qur’a>n, Cet. I, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999

Shihab, Quraish Membumikan al-Qur’a>n: Fungsi dan Peran Wahyu dalam   Kehidupan, Cet.IX; Bandung: Mizan,1995

Ash-Shabuny, Ali Muhammad, Studi Ilmu al-Qur’a>n, terj. Aminuddin. Cet. I, Bandung: Pustaka Setia, 1999

Ash Shiddieqy, Hasbi Sejarah dan Pengantar Ilmu al Qur’a>n/Tafsir,Cet. VIII; Jakarta: Bulan Bintang,1980

Al-Qattan,  Manna’, Mabahi>s fi Ulum Al-Qur’a>n, t.t:  Mansyuriah al Haditsah,1973

Al-Zarkasyi, Badr al-Din Muhammad ibn Abdullah, al-Burhan Fii Ulum al-Qur’an, Kairo: al-Babi al-Halabi, 1957

Al- Zarqa>ni, Muhammad Abd al-Adzim, Manahil al-Irfan fi Ulumu al-Qur’a>n, Juz I, t.t: Dar al-Fikr, 1996.

Watt, W. Wontgomery, Bell’s Introduction to the Qur’a>n, diterjemahkan oleh   Taufik Adnan Amal dengan judul, Pengantar Studi al-Qur’a>n, Cet.II; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1995



[1] H. Said. Agil Husni Al Munawar. Al-Qur’a>n membangun tradisi kesalehan hakiki. (Cet, 1,Ciputat  Press, januari 2002.h.14
[2] Subuhi al-Shalih, Maba<bits Fi Ulum  Al- Qur’a>n, h.65

[3] Ahmad Adil Kamal, Ulu>m Al-Qur’a>n  (tp.,tt.,t.th), h.34
[4] Manna  Khali>l  al- Qatta>n.  Studi Ilmu-ilmu  Qur’a>n. h. 178
[5]Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al- Qur’a>n/Tafsir,(Cet. VIII; Jakarta: Bulan Bintang,1980   ), h. 82.
[6]Departemen Agama, Al-Qur’a>n dan Terjemahannya,(Jakarta: PT .Bumi Restu, 1977),  h. 999.
[7]Manna>  al-Qatta>n, opcit.,  h. 119.
[8]M. Quraisy Shihab, Membumikan Al-Qur’a>n: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan, (Cet.IX;Bandung: Mizan,1995), h. 21.
[9]Manna>’ al-Qatta>n, op.  cit., h. 124.
[10]Muhammad Abd al-Adzim  al-Zarqa>ni, Manahal al-Irfan fi Ulu>mu Al-Qur’a>n, Juz I(t.t:Dar al-Fikr, 1996), h. 248
[11] Said Agil Husain. Al-Qur’a>n Membangn   tradisi Kesalehan Hakiki. h. 18
[12] Ibid. h.20

[13] Ibid. h. 23
[14] Subuhi  Salih .Maba>his  fi> ulu>m  Al-Qur’a>n,  h.253

[15] Ibrahim al-Ibri>kh, Tari>kh Al-Qur’a>n, (Kairo: Da>r al-Qalam, 1965),  h. 81
[16] Pendapat ini diyakini oleh  Jumhur ulama. Lihat: al-Zarqa>ni. Abd al-Azmi al-Zarqa>ni, al-I>rfan Fi> U>lum> Al-Qur’a>n, h.257

[17] ibid
[18]al-Zarqani, op. cit., h. 73.
[19]Badr al-Din Muhammad ibn Abdullah al-Zarkasyi, al-BurhanFiiUlum al-r’an(Kairo:al-Babi al-Halabi, 1957) h.240 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar